Kisah
ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada
bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang
saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk
memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi
bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita
bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
Dalam
suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid,
dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang,
aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki
tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut
:
"Sesungguhnya Allah telah membeli
dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk
mereka"
Selesai
ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit
dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang
telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli
dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?"
"Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau
begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan
sorga."
Anak
muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi
perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu
pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang
yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu
kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin
mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila
sedang tidur.
Sewaktu
sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba
dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai,
aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia
mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul
Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku
bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul
Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat
sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk
berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat
kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul
Mardhiyah . . . . ."
"Assalamu’alaikum"
kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul
Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini
adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada
taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban
mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya
aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah
terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat
gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini
suamimu datang . ..."
Ketika
aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa
emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata:
"Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh
kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah
mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi
menanti terlalu lama".
Belum
lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri
sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka.
Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka
ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh
kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. (
Irsyadul Ibad ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar