Minggu, 26 Januari 2014

Biarkan Maaf Dan Cinta Jadi Penyelesaian




Kebiaasaan burukku kambuh lagi. Menginginkan sesuatu dan menggebu-gebu. Mengidamkan sesuatu dan melambungkan diri di awang-awang imajinasi. Awalnya menyenangkan, apalagi kalau kesampaian. Tapi kalau tidak, duuuhh sakitnya!

Tidak sekali dua kali aku kena batunya. Tersandung, memar, lebam, benjol, nggak kapok-kapok juga.

Saat aku masih sendiri, aku bebas punya keinginan apa saja, punya impian sejauh apa, punya hayalan setinggi apa. Dan rasanya aku lebih bisa terima kalau tidak tercapai.

Setelah bergabung dengan tim yang bernama keluarga, memiliki partner hidup pasangan jiwa, aku sempat berpikir bahwa akan ada banyak impian yang bisa aku atau kami wujudkan. Ya, memang banyak… tapi kenyataannya tidak semuanya. Dan entah kenapa, bila keinginan itu terganjal oleh pasangan rasanya jauh lebih menyebalkan!

Kamu salah kalau berpikir pasangan hidup adalah orang yang selalu seiya sekata. Kenyataannya, kalian lebih sering bertentangan. Kamu berkaya ‘ya’ dia bersikeras ‘tidak’. Kamu keukeh ‘tidak’ dia ngotot harus ‘iya’. Kamu bilang ’sekarang’, dia mintanya ‘nanti’.

Dah hidup adalah menyelaraskan dari semua pertentangan yang ada, mengkombinasikan dari perbedaan yang muncul, mensinergikan dua kekuatan yang berbeda.

Sejujurnya aku malu. Tapi rasa maluku bertarung hebat dengan egoku.

Apakah salah jika aku menginginkan sesuatu, memuaskan hatiku yang kuharap juga menyenangkan kekasihku

Ah, aku yang salah. Ini egoku, aku yang menginginkannya. Bukan dia. Kupikir keinginanku ini hanya membuat dia sebagai pelengkap penderita. Meski aku masih bisa mengingat kerelaanku menjadi ‘pelengkapnya’ ke mana pun tempat yang dia tuju. Yang membuatku pilu adalah, perasaanku sendiri bahwa aku tidak bisa berlaku sama padanya, perasaan bahwa aku tidak berdaya untuk sesekali ‘memegang kendali’, tidak bisa berkata : “hei, ayolah…aku pengen begini dan aku pengen kamu manut saja kali ini, seperti kemarin aku manut pada keinginanmu, dan itu membuat urusan kita lebih mudah dan lebih ringan, pliss”

Tidak. Aku bukan tipe yang suka konfrontasi, saling adu argumen pendapat siapa yang pantas di turuti. Bertarung pada tuntutan tentang siapa yang berhak apa.

Aku menangis oleh pertarungan egoku sendiri. Dengarlah, ini yang dia ocehkan kuat-kuat. Melengking menyesaki telinga hati.

Oke kita memang punya target rumah tangga. Kita akan menghemat anggaran untuk segunung kepentingan di depan. Tapi tahukah kamu dari siapa aku belajar melanggar target anggaran? tidak lain dari kamu juga, oh kekasih hatiku.

Ketika tahun lalu aku ngotot untuk memperketat anggaran, karena tahu kita akan banyak pengeluaran, dengan santai kamu menabrak pagarnya. Membuat aku terbengong tidak karuan. Dan itu mengajariku bahwa tak apa sesekali melanggar batasan, jangan terlalu kaku seperti pola hidup yang sering kuterapkan.

Kali ini, ketika aku mengajukan satu keinginan, bahkan belum menabrak apa-apa, sekedar merencanakan, kau biarkan asaku patah bahkan sebelum kau lihat upayaku mewujudkannya. Dan kamu tahu? itu membuatku merasa tidak berharga.

“Maafin aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…”

Sekali lagi kalimat itu diucapkan aa. Kalimat yang kini menjadi cermin. Bahwa hidup adalah berani berhadapan dengan satu demi satu kekecewaan.

“He he he, tidak apa-apa A” tawaku sumbang. Cengiran yang sinis menertawakan diri sendiri. Heh, aku bukan malekat yang tanpa rasa marah ya! Ungkapan tidak-apa-apa itu berarti “ada-apa-apa-tapi-sudahlah-tidak-usah-dipikirkan-lagi”

Aa menarik tubuhku ke pelukannya. Ia tau aku terluka, dan ia tau apa obatnya. Kubenamkan kepalaku di antara leher dan pundaknya. Membiarkan airmata merembes di antara pipiku dan kaos oblongnya. Air selalu mampu memadamkan api. Dan sepertinya Tuhan beri aku kantong air mata yang penuh, agar selalu ada cadangan yang cukup untuk memadamkan api amarah yang mudah tersulut.

Air mata selalu luruh sampai ke hati, membasahinya yang mendadak gersang karena emosi. Tanpa perlu berkata-kata aku bisa mengerti pertimbangan Aa. Sejujurnya aku yang malu. Sangat malu. Bukan masanya lagi aku bertingkah layaknya kanak-kanak yang meraung meminta dibelikan mainan. Berpikir liburan di depan deretan prioritas urusan rumah tangga cukup keterlaluan. Aku sudah kebablasan.

Aa tidak berkata apa-apa.

Elusan tangganya di punggungku sudah berbicara semuanya.

Bahwa Tidak Semua

Hatiku sudah lega. Amarah pun sudah padam.

“Maafin aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…” Aa mengetatkan pelukannya.

“Tidak apa-apa A’, Ning juga minta maaf. Ning hanya ingin. Tapi Ning lupa, bahwa tidak semua keinginan harus dituruti, tidak semua keinginan harus dilaksanakan” kataku terbata.

Dengan ujung jari-jarinya, Aa mengusap sisa-sisa rembesan air mata yang membasahi kelopak mataku. Mengeringkan semua luka-luka bak mantra abrakadabra. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, tunas yang tumbuh dari sebuah luka pada dahan, seperti itu juga cinta selalu tumbuh dan terus tumbuh.

Aa menarikku naik ke atas peraduan, tempat paling sakral dalam sebuah rumah. Kamu tidak diperkenankan membawa marah ke atasnya. Di sana hanya boleh ada kemesraan. Di sana hanya boleh ada kasih sayang.

Aku berbaring bertelekan lengan aa, dengan satu lengannya melingkar tubuhku seakan tak ingin berjarak seinci pun.

“Aa sayang kamu, dik, sayang banget…adik harus ingat itu ya”

“Iya, A… Adik juga sayang Aa. Banget, banget, banget…”

“Kepengen mesra, makanya Cepat2 NIKAH… OK!!”!


Tidak ada komentar: