Kebiaasaan
burukku kambuh lagi. Menginginkan sesuatu dan menggebu-gebu. Mengidamkan
sesuatu dan melambungkan diri di awang-awang imajinasi. Awalnya menyenangkan,
apalagi kalau kesampaian. Tapi kalau tidak, duuuhh sakitnya!
Tidak
sekali dua kali aku kena batunya. Tersandung, memar, lebam, benjol, nggak
kapok-kapok juga.
Saat
aku masih sendiri, aku bebas punya keinginan apa saja, punya impian sejauh apa,
punya hayalan setinggi apa. Dan rasanya aku lebih bisa terima kalau tidak
tercapai.
Setelah
bergabung dengan tim yang bernama keluarga, memiliki partner hidup pasangan
jiwa, aku sempat berpikir bahwa akan ada banyak impian yang bisa aku atau kami
wujudkan. Ya, memang banyak… tapi kenyataannya tidak semuanya. Dan entah
kenapa, bila keinginan itu terganjal oleh pasangan rasanya jauh lebih
menyebalkan!
Kamu
salah kalau berpikir pasangan hidup adalah orang yang selalu seiya sekata.
Kenyataannya, kalian lebih sering bertentangan. Kamu berkaya ‘ya’ dia
bersikeras ‘tidak’. Kamu keukeh ‘tidak’ dia ngotot harus ‘iya’. Kamu bilang
’sekarang’, dia mintanya ‘nanti’.
Dah
hidup adalah menyelaraskan dari semua pertentangan yang ada, mengkombinasikan
dari perbedaan yang muncul, mensinergikan dua kekuatan yang berbeda.
Sejujurnya
aku malu. Tapi rasa maluku bertarung hebat dengan egoku.
Apakah
salah jika aku menginginkan sesuatu, memuaskan hatiku yang kuharap juga
menyenangkan kekasihku
Ah,
aku yang salah. Ini egoku, aku yang menginginkannya. Bukan dia. Kupikir
keinginanku ini hanya membuat dia sebagai pelengkap penderita. Meski aku masih
bisa mengingat kerelaanku menjadi ‘pelengkapnya’ ke mana pun tempat yang dia
tuju. Yang membuatku pilu adalah, perasaanku sendiri bahwa aku tidak bisa
berlaku sama padanya, perasaan bahwa aku tidak berdaya untuk sesekali ‘memegang
kendali’, tidak bisa berkata : “hei, ayolah…aku pengen begini dan aku pengen
kamu manut saja kali ini, seperti kemarin aku manut pada keinginanmu, dan itu
membuat urusan kita lebih mudah dan lebih ringan, pliss”
Tidak.
Aku bukan tipe yang suka konfrontasi, saling adu argumen pendapat siapa yang
pantas di turuti. Bertarung pada tuntutan tentang siapa yang berhak apa.
Aku
menangis oleh pertarungan egoku sendiri. Dengarlah, ini yang dia ocehkan
kuat-kuat. Melengking menyesaki telinga hati.
Oke
kita memang punya target rumah tangga. Kita akan menghemat anggaran untuk
segunung kepentingan di depan. Tapi tahukah kamu dari siapa aku belajar
melanggar target anggaran? tidak lain dari kamu juga, oh kekasih hatiku.
Ketika
tahun lalu aku ngotot untuk memperketat anggaran, karena tahu kita akan banyak
pengeluaran, dengan santai kamu menabrak pagarnya. Membuat aku terbengong tidak
karuan. Dan itu mengajariku bahwa tak apa sesekali melanggar batasan, jangan
terlalu kaku seperti pola hidup yang sering kuterapkan.
Kali
ini, ketika aku mengajukan satu keinginan, bahkan belum menabrak apa-apa,
sekedar merencanakan, kau biarkan asaku patah bahkan sebelum kau lihat upayaku
mewujudkannya. Dan kamu tahu? itu membuatku merasa tidak berharga.
“Maafin
aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…”
Sekali
lagi kalimat itu diucapkan aa. Kalimat yang kini menjadi cermin. Bahwa hidup
adalah berani berhadapan dengan satu demi satu kekecewaan.
“He
he he, tidak apa-apa A” tawaku sumbang. Cengiran yang sinis menertawakan diri
sendiri. Heh, aku bukan malekat yang tanpa rasa marah ya! Ungkapan
tidak-apa-apa itu berarti
“ada-apa-apa-tapi-sudahlah-tidak-usah-dipikirkan-lagi”
Aa
menarik tubuhku ke pelukannya. Ia tau aku terluka, dan ia tau apa obatnya.
Kubenamkan kepalaku di antara leher dan pundaknya. Membiarkan airmata merembes
di antara pipiku dan kaos oblongnya. Air selalu mampu memadamkan api. Dan
sepertinya Tuhan beri aku kantong air mata yang penuh, agar selalu ada cadangan
yang cukup untuk memadamkan api amarah yang mudah tersulut.
Air
mata selalu luruh sampai ke hati, membasahinya yang mendadak gersang karena
emosi. Tanpa perlu berkata-kata aku bisa mengerti pertimbangan Aa. Sejujurnya
aku yang malu. Sangat malu. Bukan masanya lagi aku bertingkah layaknya
kanak-kanak yang meraung meminta dibelikan mainan. Berpikir liburan di depan
deretan prioritas urusan rumah tangga cukup keterlaluan. Aku sudah kebablasan.
Aa
tidak berkata apa-apa.
Elusan
tangganya di punggungku sudah berbicara semuanya.
Bahwa
Tidak Semua
Hatiku
sudah lega. Amarah pun sudah padam.
“Maafin
aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…” Aa mengetatkan pelukannya.
“Tidak
apa-apa A’, Ning juga minta maaf. Ning hanya ingin. Tapi Ning lupa, bahwa tidak
semua keinginan harus dituruti, tidak semua keinginan harus dilaksanakan”
kataku terbata.
Dengan
ujung jari-jarinya, Aa mengusap sisa-sisa rembesan air mata yang membasahi
kelopak mataku. Mengeringkan semua luka-luka bak mantra abrakadabra. Seperti
pelangi yang muncul setelah hujan, tunas yang tumbuh dari sebuah luka pada
dahan, seperti itu juga cinta selalu tumbuh dan terus tumbuh.
Aa
menarikku naik ke atas peraduan, tempat paling sakral dalam sebuah rumah. Kamu
tidak diperkenankan membawa marah ke atasnya. Di sana hanya boleh ada
kemesraan. Di sana hanya boleh ada kasih sayang.
Aku
berbaring bertelekan lengan aa, dengan satu lengannya melingkar tubuhku seakan
tak ingin berjarak seinci pun.
“Aa
sayang kamu, dik, sayang banget…adik harus ingat itu ya”
“Iya,
A… Adik juga sayang Aa. Banget, banget, banget…”
“Kepengen mesra, makanya
Cepat2 NIKAH… OK!!”!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar