Kamis, 13 Februari 2014

Catatan Akhir Ramadhan



Catatan Akhir Ramadhan

“Siapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa), maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Al-Bukhari)

Maha Agung Allah Yang menggantikan malam kepada siang. Siang pun kembali menuju malam. Hari-hari beriring membentuk bulan. Dan bulan-bulan pun beredar menjadi tahun. Semua nikmat dan berkah-Nya seperti berkumpul pada satu puncak bulan: Ramadan. Kini “madu” Ramadhan tahun ini sudah sampai di tetes terakhir untuk kita nikmati. Ada tiga catatan yang patut kita garis bawahi selama menikmati Ramdhan tahun ini, (tapi Anda bisa menambahkannya sesuai perenungan yang Anda dapatkan selama menikmati Ramadhan tahun ini).

Pertama, seliar apa pun nafsu kita, ia bisa didewasakan.
Momentum Ramadan menyediakan pelajaran khusus buat nafsu kita. Mungkin, nafsu bisa mendikte apa pun di luar Ramadan. Di balik tuntutan lapar, ia bisa saja menciptakan seribu satu dalih agar orang mencuri. Ia juga bisa mengelabui orang hingga terjebak pada zina. Dan di balik tuntutan istirahat, ia pun mampu mengungkung orang menjadi penyantai dan pemalas.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 12: 53)

Di luar Ramadan, pintu-pintu aliran energi nafsu kerap terbuka lebar. Ia bebas mondar-mandir. Bisa bertingkah seperti apa pun menurut seleranya. Kekuatan nafsu kian berkembang bersama energi yang diperoleh tubuh dari makan, minum, dan lain-lain. Bayangkan jika pintu-pintu itu tak pernah tertutup. Nafsu jadi kian liar.

Allah swt. menghadiahi shaum agar seorang mukmin bisa mendewasakan nafsu. Bisa menutup-buka pintu-pintu energinya. Hingga, nafsu tidak lagi seperti anak kecil yang bisa dapat apa pun ketika merengek dan menuntut. Nafsu harus dipaksa. Agar, ia bisa dewasa. Semoga tarbiyah Rabbaniyah di bulan Ramadhan ini telah memdewasakan nafsu kita. Sehingga, pasca Ramadhan nanti kita bisa mengendalikan diri.

Kedua, sekotor apa pun jiwa kita, ia bisa dibersihkan.
Jangan pernah membayangkan kalau yang di dalam tak tersentuh kotoran. Alur hidup persis seperti aliran air dalam pipa-pipa. Ada yang masuk, mengalir dan berproses hingga menjadi keluaran. Kian kotor masukan, makin banyak endapan yang melekat pada bagian dalam pipa. Suatu saat, pipa bisa keropos. Ini akan berpengaruh pada keluaran yang dihasilkan.

Selama sebelas bulan, saringan-saringan masukan boleh jadi begitu longgar. Bahkan mungkin, tidak ada sama sekali. Semua bisa masuk. Mulai dari yang samar, kotor, bahkan beracun. Kalau saja tidak dipaksa ada saringan, proses pengeroposan menjadi sangat cepat. Jiwa-jiwa yang keropos akan membutakan mata hati. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami? Atau, telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.” (QS. 22: 46)

Jika aliran yang masuk melalui pipa mata, telinga, mulut, pikiran, dan rasa bisa tersaring jernih; tidak akan ada endapan. Tidak akan ada tumpukan racun si pembuat keropos. Otomatis, keluaran pun menjadi bersih. Ibadah yang sebelumnya berat menjadi ringan. Sangat ringan!

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi yang mengotorinya.” (QS. 91: 7-10)
Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berusaha membersihkan jiwa kita selama sebulan di Ramdhan tahun ini.

Ketiga, sepicik apa pun ego kita, ia bisa dicerdaskan.
Kadang manusia bangga berdiri di atas egonya. Seolah ia mengatakan, “Inilah saya!” Nalar berikutnya pun bilang, pusatkan semua kekuatan diri demi kepuasan ego. Walau sebenarnya, keakuan itu sudah melabrak nilai-nilai ketinggian Islam.

Karena ego, orang bisa menganggap kalau dirinyalah yang terbaik. Tak perlu masukan dan sumbang saran. Karena ego pula, orang menjadi tak perlu berjamaah. Ego menghias kepicikan diri menjadi prestasi besar.

Ramadan memaksa ego untuk tunduk dengan kenyataan. Bahwa, yang ego banggakan ternyata tak sekuat yang dibayangkan. Dan kelemahannya begitu sederhana. Semua ada pada energi yang dihasilkan dari nasi, ikan, telur, dedaunan, dan air. Selebihnya, ego tak punya apa-apa.

Dalam bentuk yang lain, ego bisa ditundukkan dengan memperbanyak sujud. Itulah di antara makna qiyamul lail. Ketika sendiri, kemuliaan ego melalui simbol kepala secara terus-menerus disejajarkan dengan bumi. Suatu tempat di mana di situ ada kotoran, tempat berpijak kaki-kaki hewan, dan tempat berkumpul kotoran manusia. Ego dipaksa untuk melihat kenyataan diri. Bahwa, ia hanya seorang hamba.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya...” (QS. 98: 5)

Semoga tarbiyah Rabbaniyah di Ramadhan tahun ini telah mengembalikan kita kepada kesadaran bahwa kita hanyalah seorang hamba yang tugas utamanya adalah menyembah Allah. Tidak lebih.

Inilah momentum Ramadan yang begitu mahal. Persis seperti kucuran hujan buat para petani. Kumpulan airnya akan berlalu begitu saja jika tidak segera dibendung, dialirkan, dan dimanfaatkan. Agar, benih-benih kebaikan baru bisa tumbuh, besar, dan berbuah. Semoga kita bukan petani yang lalai menampung hujan rahmat di Ramadhan tahun ini.

(sumber: dakwatuna.com)

http://www.sekolahdasar.net/2014/02/kemendikbud-mewajibkan-seluruh-guru-ikut-ppg.html?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+sekolahdasar+%28SekolahDasar.Net+RSS+Feed%29

http://www.sekolahdasar.net/2014/02/kemendikbud-mewajibkan-seluruh-guru-ikut-ppg.html?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+sekolahdasar+%28SekolahDasar.Net+RSS+Feed%29

Cinta Lelaki Mulia



Minggu, 26 Januari 2014

Bukti Allah Maha Pengampun




Adalah seorang laki-laki yang di perintahkan masuk ke Neraka, maka ketika ia berjalan sampai sepertiga jalan dia berpaling kebelakang, ketika smapai separuh perjalanan dia pun berpaling kebelakang lagi dan tatkala dia sampai pada dua pertiga perjalanan dia pun berpaling pula.
Maka Allah SWT berfirman: “Hai para malaikatKu kembalikanlah dia”. Dan kemudian Allah bertanya dengan firmanNya: “Mengapa engkau selalu berpaling kebelakang?”.
Dia menjawab: “Wahai Tuhanku, ketika saya sampai sepertiga perjalanan, saya teringat firman Engkau : “Dan Tuhanmu itu Maha pengampun dan juga mempunyai kasih sayang”, maka kata saya “Kalau sekiranya Engkau mau mengampuni saya”.
Dan ketika saya sampai pada separuh perjalanan, saya teringat dengan firmanMu: “Dan tidak mengampuni dosa-dosa kecuali Allah”. maka kata saya “Kalau sekiranya Engkau mau mengampuni saya”. Dan ketika saya sampai pada dua pertiga perjalanan, saya juga teringat dengan firman Engkau: ”Katakanlah olehmu Muhammad: “Hai para hambaKu yang telah berlebih-lebihan terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian semua berputus asa dari rahmat Allah”. Maka saya pun bertambah berharap sekiranya engkau mau mengampuni aku”.
Maka Allah SWT berfirman: “Pergilah engkau dan sungguh Aku telah mengampuni engkau”.

Maka seharusnya bagi orang yang berakal agar supaya dia mau meminta dari Allah SWT akan ampunan terhadap dosa-dosanya, mau menangis dari sebab takut kepada Allah dan mau mengakui segala kekuranganya serta mau bertobat kepadaNya. Karena sungguh Allah maha Pemberi Tobat dan tidak akan menolak orang yang bertobat dengan tangan hampa dari pintu  tobatNya.

Bidadari Syurga




Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka"

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.



Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."

"Assalamu’alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . ..."

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama".

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

Biarkan Maaf Dan Cinta Jadi Penyelesaian




Kebiaasaan burukku kambuh lagi. Menginginkan sesuatu dan menggebu-gebu. Mengidamkan sesuatu dan melambungkan diri di awang-awang imajinasi. Awalnya menyenangkan, apalagi kalau kesampaian. Tapi kalau tidak, duuuhh sakitnya!

Tidak sekali dua kali aku kena batunya. Tersandung, memar, lebam, benjol, nggak kapok-kapok juga.

Saat aku masih sendiri, aku bebas punya keinginan apa saja, punya impian sejauh apa, punya hayalan setinggi apa. Dan rasanya aku lebih bisa terima kalau tidak tercapai.

Setelah bergabung dengan tim yang bernama keluarga, memiliki partner hidup pasangan jiwa, aku sempat berpikir bahwa akan ada banyak impian yang bisa aku atau kami wujudkan. Ya, memang banyak… tapi kenyataannya tidak semuanya. Dan entah kenapa, bila keinginan itu terganjal oleh pasangan rasanya jauh lebih menyebalkan!

Kamu salah kalau berpikir pasangan hidup adalah orang yang selalu seiya sekata. Kenyataannya, kalian lebih sering bertentangan. Kamu berkaya ‘ya’ dia bersikeras ‘tidak’. Kamu keukeh ‘tidak’ dia ngotot harus ‘iya’. Kamu bilang ’sekarang’, dia mintanya ‘nanti’.

Dah hidup adalah menyelaraskan dari semua pertentangan yang ada, mengkombinasikan dari perbedaan yang muncul, mensinergikan dua kekuatan yang berbeda.

Sejujurnya aku malu. Tapi rasa maluku bertarung hebat dengan egoku.

Apakah salah jika aku menginginkan sesuatu, memuaskan hatiku yang kuharap juga menyenangkan kekasihku

Ah, aku yang salah. Ini egoku, aku yang menginginkannya. Bukan dia. Kupikir keinginanku ini hanya membuat dia sebagai pelengkap penderita. Meski aku masih bisa mengingat kerelaanku menjadi ‘pelengkapnya’ ke mana pun tempat yang dia tuju. Yang membuatku pilu adalah, perasaanku sendiri bahwa aku tidak bisa berlaku sama padanya, perasaan bahwa aku tidak berdaya untuk sesekali ‘memegang kendali’, tidak bisa berkata : “hei, ayolah…aku pengen begini dan aku pengen kamu manut saja kali ini, seperti kemarin aku manut pada keinginanmu, dan itu membuat urusan kita lebih mudah dan lebih ringan, pliss”

Tidak. Aku bukan tipe yang suka konfrontasi, saling adu argumen pendapat siapa yang pantas di turuti. Bertarung pada tuntutan tentang siapa yang berhak apa.

Aku menangis oleh pertarungan egoku sendiri. Dengarlah, ini yang dia ocehkan kuat-kuat. Melengking menyesaki telinga hati.

Oke kita memang punya target rumah tangga. Kita akan menghemat anggaran untuk segunung kepentingan di depan. Tapi tahukah kamu dari siapa aku belajar melanggar target anggaran? tidak lain dari kamu juga, oh kekasih hatiku.

Ketika tahun lalu aku ngotot untuk memperketat anggaran, karena tahu kita akan banyak pengeluaran, dengan santai kamu menabrak pagarnya. Membuat aku terbengong tidak karuan. Dan itu mengajariku bahwa tak apa sesekali melanggar batasan, jangan terlalu kaku seperti pola hidup yang sering kuterapkan.

Kali ini, ketika aku mengajukan satu keinginan, bahkan belum menabrak apa-apa, sekedar merencanakan, kau biarkan asaku patah bahkan sebelum kau lihat upayaku mewujudkannya. Dan kamu tahu? itu membuatku merasa tidak berharga.

“Maafin aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…”

Sekali lagi kalimat itu diucapkan aa. Kalimat yang kini menjadi cermin. Bahwa hidup adalah berani berhadapan dengan satu demi satu kekecewaan.

“He he he, tidak apa-apa A” tawaku sumbang. Cengiran yang sinis menertawakan diri sendiri. Heh, aku bukan malekat yang tanpa rasa marah ya! Ungkapan tidak-apa-apa itu berarti “ada-apa-apa-tapi-sudahlah-tidak-usah-dipikirkan-lagi”

Aa menarik tubuhku ke pelukannya. Ia tau aku terluka, dan ia tau apa obatnya. Kubenamkan kepalaku di antara leher dan pundaknya. Membiarkan airmata merembes di antara pipiku dan kaos oblongnya. Air selalu mampu memadamkan api. Dan sepertinya Tuhan beri aku kantong air mata yang penuh, agar selalu ada cadangan yang cukup untuk memadamkan api amarah yang mudah tersulut.

Air mata selalu luruh sampai ke hati, membasahinya yang mendadak gersang karena emosi. Tanpa perlu berkata-kata aku bisa mengerti pertimbangan Aa. Sejujurnya aku yang malu. Sangat malu. Bukan masanya lagi aku bertingkah layaknya kanak-kanak yang meraung meminta dibelikan mainan. Berpikir liburan di depan deretan prioritas urusan rumah tangga cukup keterlaluan. Aku sudah kebablasan.

Aa tidak berkata apa-apa.

Elusan tangganya di punggungku sudah berbicara semuanya.

Bahwa Tidak Semua

Hatiku sudah lega. Amarah pun sudah padam.

“Maafin aa yang udah bikin kamu kecewa, dik…” Aa mengetatkan pelukannya.

“Tidak apa-apa A’, Ning juga minta maaf. Ning hanya ingin. Tapi Ning lupa, bahwa tidak semua keinginan harus dituruti, tidak semua keinginan harus dilaksanakan” kataku terbata.

Dengan ujung jari-jarinya, Aa mengusap sisa-sisa rembesan air mata yang membasahi kelopak mataku. Mengeringkan semua luka-luka bak mantra abrakadabra. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, tunas yang tumbuh dari sebuah luka pada dahan, seperti itu juga cinta selalu tumbuh dan terus tumbuh.

Aa menarikku naik ke atas peraduan, tempat paling sakral dalam sebuah rumah. Kamu tidak diperkenankan membawa marah ke atasnya. Di sana hanya boleh ada kemesraan. Di sana hanya boleh ada kasih sayang.

Aku berbaring bertelekan lengan aa, dengan satu lengannya melingkar tubuhku seakan tak ingin berjarak seinci pun.

“Aa sayang kamu, dik, sayang banget…adik harus ingat itu ya”

“Iya, A… Adik juga sayang Aa. Banget, banget, banget…”

“Kepengen mesra, makanya Cepat2 NIKAH… OK!!”!