Batas 12
Seorang ahli hukum menyusul bertanya;
Dan bagaimana
tentang undang-undang kita?
Dijawabnya;
Kalian senang meletakkan
perundangan,
namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,
Bagaikan
kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,
yang penuh kesungguhan
menyusun pasir jadi menara,
kemudian menghancurkannya sendiri,
sambil
gelak tertawa ria.
Tapi,
selama kau sedang sibuk menyusun menara
pasirmu,
sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,
Dan
pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa
bersamamu.
Sesungguhnya,
samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama
mereka yang tanpa dosa.
Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap
kehidupan bukan sebagai samudera,
dan melihat undang-undang buatannya
sendiri,
bukan ibarat menara pasir?
Merekalah yang memandang
kehidupan,
laksana sebungkal batu karang,
dan undang-undang menjadi
pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera
manusia,
sesuai hasrat kemahuan.
Bagaimana dia,
si timpang yang
membenci para penari?
Bagaimana pula kerbau yang menyukai
bebannya,
dam mencemooh kijang,
menamakannya hewan liar tiada
guna?
Lalu betapa ular tua,
yang tak dapat lagi menukar
kulitnya,
dan karena itu menyebut ular lain sebagai telanjang,
tak kenal
susila?
Ada lagi dia,
yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu
keramaian perkawinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan
keletihan,
meninggalkan keramaian dengan umpatan,
menyatakan semua pesta
sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan
belaka.
Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahwa memang
mereka berdiri di bawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung
mereka membelakangi?
Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan
bayangan itulah menjadi undang-undangnya.
Apakah arti sang surya bagi
mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?
Dan apakah kepatuhan hukum
baginya,
selain terbongkok dan melata di atas tanah,
mencari dan
menyelusuri bayangan sendiri?
Tapi kau,
yang berjalan menghadapkan
wajah ke arah mentari,
bayangan apa di atas tanah,
yang dapat
menahanmu?
Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu
memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu,
bila kau
patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjara orang
lain?
Hukum apa yang kau takuti,
jikalau kau menari-nari,
tanpa
kakimu tersadung belenggu orang lain?
Dan siapakah dia yang
menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya di jalan
orang lain?
Rakyat Orphalese,
kalian mungkin mampu memukul
gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun
katakan,
siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk
menyanyi.
Batas
13
Seorang ahli pidato maju ke depan;
bertanyakan masalah
kebebasan.
Dia mendapat jawaban;
Telah kusaksikan,
di gerbang kota
maupun dekat tungku perapian,
engkauu bertekuk lutut memuja Sang
Kebebasan.
Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,
si
zalim yang disanjung puja,
walaupun dia hendak menikam.
Ya, sampaipun
di relung-relung candi,
dan keteduhan pusat kota,
kulihat yang paling
bebas pun diantara kalian,
mengendong kebebasannya laksana
pikulan,
mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.
Hatiku
menitikkan darah dalam dada,
karena kutahu,
bahwa kau hanya dapat bebas
sepenuhnya,
apabila kau dapat menyadari;
bahwa keinginan untuk kebebasan
pun,
merupakan sebentuk belenggu jiwamu.
Hanya jikalau kau pada
akhirnya,
berhenti bicara tentang Kebebasan,
sebagai suatu tujuan dan
sebuah hasil perbincangan,
maka kau akan bebas,
bila hari-hari tiada
kosong dari beban pikiran,
dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan
kesedihan.
Bahkan justru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup
ini,
tetapi yang berhasil engkau atasi,
dan jaya kau tegak menjulang
tinggi,
sempurna, terlepas segala tali-temali.
Dan bagaimana kau akan
bangkit,
mengatasi hari dan malammu,
apabila kau tak mematahkan belenggu
ikatan,
yang di pagi pengalamanmu,
telah engkau kaitkan pada ketinggian
tengah harimu?
Sesungguhnyalah,
apa yang kau namai Kebebasan,
tak
lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,
walau kilaunya
gemerlap cemerlang di sinar surya,
serta menyilaukan pandang
matamu.
Dan sadarkah engkau,
apa yang akan kau lepaskan itu?
tiada
lain adalah cebir dari dirimu,
jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang
kau rindu.
Apabila yang akan kau buang itu,
suatu hukum yang tak
adil,
akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,
serta kau
pahatkan diatas permukaan keningmu.
Mustahil kau akan
menghapusnya,
dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,
tak mungkin pula
dengan cara membasuh kening para hakimmu,
walau air seluruh lautan
kaucurahkan untuk itu.
Apabila seorang zalim yang hendak kau
tumbangkan,
usahakanlah dahulu,
agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di
hatimu,
kau cabut akarnya sebelum itu.
Sebab bagaimanakah seorang
zalim,
dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,
jika bukan
engkau sendiri membiarkannya,
menodai kebebasan yang kau junjung
tinggi,
mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu
peribadi?
Apabila suatu beban kesusahan yang hendak
kautanggalkan,
maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi
pilihanmu,
bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.
Bilamana
ketakutan yang ingin kau hilangkan,
maka perasaan ngeri itu bersarang di
hatimu,
bukannya berada pada dia yang kau takuti.
Sebenarnyalah,
segalanya itu bergetar dalam diri,
dalam rangkulan setengah terkatup, yang
abadi;
antara;
yang kauinginkan dan yang kau takuti,
yang memuakkan dan
yang kausanjung puji,
yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal
pergi.
Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,
bagaikan Sinar dan
Bayangan,
dalam pasangan-pasangan,
yang lestari berpelukan.
Dan
apabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,
maka sinar yang
tinggal, wujudlah bayangan baru,
bagi sinar yang lain;
demikianlah
selalu.
Seperti itulah pekerti Kebebasan,
apabila ia kehilangan
pengikatnya yang lama,
maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,
bagi
Kebebasan yang lebih agung,
sentiasa.