Minggu, 29 September 2013

PIKIRAN DAN SAMADI

Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat yang lain; Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. Dan kita yang diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya melihat susuk yang menghalangi dan merintangi jalan kita.

Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgasana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu ; merenggut mahkota kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.

Cinta lalu di depan kita, berjubahkan kelembutan ; tapi kita lari ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan mengikutinya, untuk berbuat kejahatan  atas namanya.

Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok karena memikul beban Cinta, tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon yang berpuput riang.

Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lezat dan anggurnya ; tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan dengan lahap dan rakus.

Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya ; tapi kita takut akan keheningannya, lalu bergegas lari ke kota yang ramai, berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing yang lari ketakutan dari serigala garang.

Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya bagaikan musuh.

Hati manusia menyeru pertolongan ; jiwa manusia memohon pembebasan ; tapi kita tidak mendengar teriak mereka, karena kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya. Namun orang yang mendengar dan memahaminya  kita sebut gila lalu kita tinggalkan.

Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita sentiasa ketakutan.

Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita memijak-mijak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan memamah hati kita. Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.

DUA PUISI



Berabad-abad yang lalu, di suatu jalan menuju Athena, dua orang penyair bertemu. Mereka mengagumi satu sama lain. Salah seorang penyair bertanya, "Apa yang kau ciptakan akhir-akhir ini, dan bagaimana dengan lirikmu?"

Penyair yang seorang lagi  menjawab dengan bangga, "Aku tidak melakukan hal lain selain menyelesaikan syairku yang paling indah, kemungkinan merupakan syair yang paling hebat yang pernah ditulis di Yunani. Isinya pujian tentang Zeus yang Mulia."

Lalu dia mengambil selembar kulit dari balik jubahnya dan berkata, "Ke mari, lihatlah, syair ini kubawa, dan aku senang bila dapat membacakannya untukmu. Ayo, mari kita duduk berteduh di bawah pohon cypress putih itu."

Lalu penyair itu membacakan syairnya.  Syair itu panjang sekali.

Setelah selesai, penyair yang satu berkata, "Itu syair yang indah sekali. Syair itu akan dikenang berabad-abad dan akan membuat engkau masyhur."

Penyair pertama berkata dengan tenang, "Dan apa yang telah kau ciptakan akhir-akhir ini?"

Penyair kedua menjawab, "Aku hanya menulis sedikit. Hanya delapan baris untuk mengenang seorang anak yang bermain di kebun." Lalu ia membacakan syairnya.

Penyair pertama berkata, "Boleh tahan, boleh tahan."

Kemudian mereka berpisah.

Sekarang, setelah dua ribu tahun berlalu, syair delapan baris itu dibaca di setiap lidah, diulang-ulang, dihargai dan selalu dikenang. Dan walaupun syair yang satu lagi memang benar bertahan berabad-abad lamanya dalam perpustakaan, di rak-rak buku, dan walaupun syair itu dikenang, namun tidak ada yang tertarik untuk menyukainya atau membacanya.

Sabtu, 28 September 2013

DUA KEINGINAN

DARI PETIKAN SANG NABI (THE PROPHET)



Batas 12
Seorang ahli hukum menyusul bertanya;
Dan bagaimana tentang undang-undang kita?

Dijawabnya;
Kalian senang meletakkan perundangan,
namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,
yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,
kemudian menghancurkannya sendiri,
sambil gelak tertawa ria.

Tapi,
selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,
sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,

Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa bersamamu.

Sesungguhnya,
samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,
dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan ibarat menara pasir?

Merekalah yang memandang kehidupan,
laksana sebungkal batu karang,
dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera manusia,
sesuai hasrat kemahuan.

Bagaimana dia,
si timpang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
dam mencemooh kijang,
menamakannya hewan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua,
yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
dan karena itu menyebut ular lain sebagai telanjang,
tak kenal susila?

Ada lagi dia,
yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu keramaian perkawinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan keletihan,
meninggalkan keramaian dengan umpatan,
menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.

Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahwa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah arti sang surya bagi mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?

Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
selain terbongkok dan melata di atas tanah,
mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau,
yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,
bayangan apa di atas tanah,
yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu,
bila kau patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kau takuti,
jikalau kau menari-nari,
tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?

Dan siapakah dia yang menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese,
kalian mungkin mampu memukul gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun katakan,
siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk menyanyi.
Batas 13


Seorang ahli pidato maju ke depan;
bertanyakan masalah kebebasan.

Dia mendapat jawaban;
Telah kusaksikan,
di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,
engkauu bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.

Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,
si zalim yang disanjung puja,
walaupun dia hendak menikam.

Ya, sampaipun di relung-relung candi,
dan keteduhan pusat kota,
kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,
mengendong kebebasannya laksana pikulan,
mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.

Hatiku menitikkan darah dalam dada,
karena kutahu,
bahwa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,
apabila kau dapat menyadari;
bahwa keinginan untuk kebebasan pun,
merupakan sebentuk belenggu jiwamu.

Hanya jikalau kau pada akhirnya,
berhenti bicara tentang Kebebasan,
sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,
maka kau akan bebas,
bila hari-hari tiada kosong dari beban pikiran,
dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.

Bahkan justru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,
tetapi yang berhasil engkau atasi,
dan jaya kau tegak menjulang tinggi,
sempurna, terlepas segala tali-temali.

Dan bagaimana kau akan bangkit,
mengatasi hari dan malammu,
apabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,
yang di pagi pengalamanmu,
telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?

Sesungguhnyalah,
apa yang kau namai Kebebasan,
tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,
walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar surya,
serta menyilaukan pandang matamu.

Dan sadarkah engkau,
apa yang akan kau lepaskan itu?
tiada lain adalah cebir  dari dirimu,
jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.

Apabila yang akan kau buang itu,
suatu hukum yang tak adil,
akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,
serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.

Mustahil kau akan menghapusnya,
dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,
tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,
walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.

Apabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,
usahakanlah dahulu,
agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,
kau cabut akarnya sebelum itu.

Sebab bagaimanakah seorang zalim,
dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,
jika bukan engkau sendiri membiarkannya,
menodai kebebasan yang kau junjung tinggi,
mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?

Apabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,
maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,
bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.

Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,
maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,
bukannya berada pada dia yang kau takuti.

Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,
dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;
antara;
yang kauinginkan dan yang kau takuti,
yang memuakkan dan yang kausanjung puji,
yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.

Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,
bagaikan Sinar dan Bayangan,
dalam pasangan-pasangan,
yang lestari berpelukan.

Dan apabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,
maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,
bagi sinar yang lain;
demikianlah selalu.

Seperti itulah pekerti Kebebasan,
apabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,
maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,
bagi Kebebasan yang lebih agung,
sentiasa.

CIUMAN PERTAMA


Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air pancuran cinta. 
Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan.
Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan , bab pertama dari suatu novel tentang manusia.
Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan. 

Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian-nyanyiannya.
Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai singgasana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota. 

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.
Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian. 

Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.
Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.

Jumat, 27 September 2013

BANGSA KASIHAN


Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

BAGI SAHABATKU YANG TERTINDAS

BAGI SAHABATKU YANG TERTINDAS

Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan, diberi makan pada dada penurunan nilai, yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani, engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir.

Wahai askar yang diperintah oleh hukum yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan isterinya, anak-anaknya yang masih kecil, sahabat-sahabatnya, dan memasuki gelanggang kematian demi kepentingan cita-cita, yang mereka sebut 'keperluan'.

Wahai penyair yang hidup sebagai orang asing di kampung halamannya, tak dikenali di antara mereka yang mengenalinya, yang hanya berhasrat untuk hidup di atas sampah masyarakat dan dari tinggalan atas permintaan dunia yang hanya tinta dan kertas.

Wahai tawanan yang dilemparkan ke dalam kegelapan kerana kejahatan kecil yang dibuat seumpama kejahatan besar oleh mereka yang membalas kejahatan dengan kejahatan, dibuang dengan kebijaksanaan yang ingin mempertahankan hak melalui cara-cara yang keliru.

Dan engkau, Wahai wanita yang malang, yang kepadanya Tuhan menganugerahkan kecantikan. Masa muda yang tidak setia memandangnya dan mengekorimu, memperdayakan engkau, menanggung kemiskinanmu dengan emas. Ketika kau menyerah padanya, dia meninggalkanmu. Kau serupa mangsa yang gementar dalam cakar-cakar penurunan nilai dan keadaan yang menyedihkan.

Dan kalian, teman-temanku yang rendah hati, para martir bagi hukum buatan manusia. Kau bersedih, dan kesedihanmu adalah akibat dari kebiadaban yang hebat, dari ketidakadilan sang hakim, dari licik si kaya, dan dari keegoisan hamba demi hawa nafsunya

Jangan putus asa, kerana di sebalik ketidakadilan dunia ini, di balik persoalan, di balik awan gemawan, di balik bumi, di balik semua hal ada suatu kekuatan yang tak lain adalah seluruh kadilan, segenap kelembutan, semua kesopanan, segenap cinta kasih.

Engkau laksana bunga yang tumbuh dalam bayangan. Segera angin yang lembut akan bertiup dan membawa bijianmu memasuki cahaya matahari tempat mereka yang akan menjalani suatu kehidupan indah.

Engkau laksana pepohonan telanjang yang rendah kerana berat dan bersama salju musim dingin. Lalu musim bunga akan tiba menyelimutimu dengan dedaunan hijau dan berair banyak.

Kebenaran akan mengoyak tabir airmata yang menyembunyikan senyumanmu. Saudaraku, kuucapkan selamat datang padamu dan kuanggap hina para penindasmu.

ANTARA PAGI DAN MALAM HARI


TENANGLAH hatiku, karena langit tak pun mendengarkan
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?

DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.
Aku berbicara dalam hati,"Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya.
" Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?"
Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang."
Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan."
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya.
Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lezat seperti musim bunga dari surga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati.
Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!"
Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.

TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, kerana langit menghembus bau amis kematian dan tak bisa meminum nafasmu.
Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam pikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.
Sang waktu datang  kala aku merasa jemu  terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata,
"Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."
Tatkala kerjaku selesai, kapal pikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai, kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling.
Ini mereka lakukan karana bagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal pikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"

Setelah setahun aku menaiki kapal pikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan barang-barang hasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet"
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemoohan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.
Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena mata mereka  hanya melihat bagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahasia-rahasianya.

TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Karena dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.
NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?
Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.

Rabu, 18 September 2013

TRICAJUS (TRIBULUS DAN MACA)



Fungsi utama Tricajus & Aturan Pakai
FUNGSI UTAMA TRICAJUS
  1. Mengembalikan kejantanan lelaki.
  2. Meningkatkan tahap kesuburan lelaki dan wanita.
  3. Mengawal Asid di dalam badan.
  4. Melancarkan peredaran darah.
  5. Mengatasi masalah kencing manis dan gout.
  6. Mengatasi masalah jantung dan darah tinggi.
  7. Mengatasi penyakit penyakit lumpuh.
  8. Mengatasi & menyembuhkan penyakit Wasir/Ambaien & sembelit/susah buang besar
  9. Menguatkan fungsi hati.
  10. Mengatasi masalah prahaid dan monopous wanita.
  11. Mengatasi penyakit batu karang/kencing batu.
  12. Mengatasi Penyakit Asam Urat
  
Fungsi MACA untuk LELAKI
  • Sebagai Viagra Semulajadi.
  • Meningkatkan tenaga batin.
  • Meningkatkan nafsu syahwat.
  • Menyembuhkan mati pucuk.
  • Meningkatkan kesuburan.
  • Meningkatkan stamina.
  • Menstabilkan hormon lelaki.
  • Peningkatan potensi lelaki.
  • Membantu melawan sintom Andropans.
  • Mengatasi kemurungan dan anti penuaan.
  • Terapi Penggantian Hormon (HRT)
  • Meingkatkan bilangan sperma (oligospermia), bilangan spermatozoids dan pergerakannya untuk menggalakkan pembentukan spermatozouds (spermatoogenesis)
  • Mengawal berat badan, merendahkan kolestrol dan lemak dan mengelakkan masalah jantung.
  • Memperbaiki kualiti tidur.

  
Fungsi MACA untuk WANITA
  • Meningkatkan nafsu syahwat.
  • Meningkatkan tenaga.
  • Mengatasi komplikasi rahim.
  • Mengatasi kemurungan
  • Untuk mengeluarkan satu rasa "sejahtera yang umum"
  • Terapi Penggantian Hormon (HRT)
  • PMS dan masalah yang berkaitan
  • Kawalan berat badan dan menyeimbangkan hormon
  • Mengatasi masalah jantung.
  • Merendahkan kolestrol dan lemak.
  • Memperbaiki kualiti tidur dan meningkatkan kepekaan
  • Anti penuaan
  • Mengurangkan simptom menopause.
  • Meningkatkan kesuburan dan rangsangan.
  • Menstabilkan hormon.
  • Melegakan simptom perimenopause.
  • Mengurangkan kelesuan.

 
Aturan Pemakaian :

1 paket TricaJus berisi total 30 sachet, 1 sachet berisi 20 gr TricaJus
* Untuk awal, minum 2x setengah sachet selama kurang lebih 3 hari. 
* Bila sudah stabil, boleh minum 2x 1 sachet. 
* Untuk pemeliharaan dan penjagaan kesehatan minum 1x 1 sachet

Panduan Mengkonsumsi TricaJus : '
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam mengkonsumsi TricaJus agar diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Masukkan setengah sachet TricaJus kedalam setengah gelasair dan aduk rata.
2. Minumlah TricaJus dalam keadaan perut kosong (dosis setengah sachet selama kurang lebih 3 hari) 

3. Untuk hasil yang optimal, minum pada hari menjelang tidur. 
4. Jika tindak balas (efek obat, healing crisis) minum lagi setengah sachet saat bangun tidur. 
5. Sebaliknya, jika tidak kuat dengan tindak balas, cukup minum malam hari dengan dosis seperempat sachet. Dosis ditingkatkan setelah tubuh siap (beradaptasi)
6. Selama minum TricaJus, wajib minum air putih minimal 2 liter sehari



Hal Lain Yang Perlu Diperhatikan Untuk Mendapatkan Khasiat Yang Optimal : '
* TricaJus jangan dicampur dengan air mendidih, karena dapat merusak nutrisi, khususnya vitamin C.
* Jangan dicampur air es kecuali terpaksa, karena melemahkan daya serap tubuh.
* Minumlah 1 jam sebelum makan (perut kosong) * Jika makan daging, diminum 4 jam setelah amakan.
* Dapat diminum 1 jam setelah makan, jika tidak makan daging.
* Untuk penderita sakit maag, minumlah setelah makan.
* Gunakan sendok dan gelas yang tidak terbuat dari logam.
* Berdoa dan memohon kebaikan/kesembuhan setelah minum herbal TricaJus.
* Dosis terus diturunkan menjadi setengah sachet dari sebelumnya jika tidak kuat dengan tindak balas.
* Dosis ditingkatkan lagi menjadi 2x lipat jika reaksi belum dirasakan max s/d 2 sachet/hari
* Untuk dosis 1 sachet sebaiknya dipecah menjadi setengah pada malam hari dan setengah pada pagi hari.
* Jika minum TricaJus harus tetap masuk kerja(kantor) gunakan dosis rendah.
* Saat terjadi tindak balas tidakboleh berhenti minum, karena produk sudah
berhasil menemukan akar masalah dan sedang proses pembersihan, pemulihan dan penyembuhan.
* Jika tindak balas sudak berhenti, maka TricaJus tetap diminum dengan dosis
menjadi seperempat bagian.


HEALING CRISIS adalah tanda-tanda proses pemulihan pada tubuh yang umu ditemukan dalam kaidah pengobatan dengan herba atau alami. Kondisi positif ini menunjukkan herba mulai bekerja membersihkan tubuh dari racun-racun yang mengendap dalam tubuh, dan tubuh mulai menerima nutrisi dan melakukan proses penyeimbangan sistem kerjanya, termasuk mulai meregenerasi sel-sel yang rusak / mati.

Efek yang dirasakan sesesorang pada saat tahapan ini terjadi, kadang sangat tidak mengenakkan bahkan sebagian orang akan menyangka bahwa ini adalah efek samping dari herbal yang dikonsumsi dan pada akhirnya mereka berhenti mengkonsumsi herbal tersebut dan ini yang sangat disayangkan, padahal setelah proses ini selesai, mereka akan merasakan tubuh yang lebih berenergi, merasakan hilangnya tekanan / stress dan merasakan kesehatan dan kebugaran yang luar biasa.

Lamanya orang mengalami tindak balas ini beragam, umumnya 1-3 hari sympton yang dirasakan akan hilang, tapi dalam beberapa kasus tertentu bisajuga dialami selama beberapa minggu (biasanya jika penyakit yang diderita cukup parah / sudah lama)

Reaksi Penyesuaian Yang Pernah DiLaporkan :

Tetapi bagi pemula yang pernah dilaporkan adalah rasa tegang pada leher dan kepala, hal ini adalah akibat dari peningkatan metabolisme energi yang tiba-tiba.

Semua reaksi penyesuaian bagi pemula adalah akibat dari peningkatan metabolisme seluruh sel-sel organ tubuh yang membutuhkan dukungan aliran darah yang baik, oksigen yang cukup, nutrisi dan kalori. Jika ada gangguan aliran darah dibagian tertentu maka akan terjadi gangguan di daerah tersebut.

Cara mengatasi dengan minum air putih minimal 2 liter / hari, gerakan peregangan, dosis dikurangi dan minum manis.


KEMUNGKINAN TINDAK BALAS (HEALING CRISIS) POSITIF TRICAJUS
REAKSI TUBUH
KEMUNGKINAN PENYEBAB
SOLUSI
Demam rendah atau
badan terasa panas
Peningkatan sirkulasi yang akan menaikkan metabolisme tubuh untuk melepaskan panas tubuh dan karena itu suhu tubuh meningkat
Konsumsi di pagi hari, hindari konsumsi di malam hari, minum lebih banyak air putih
Demam terasa terjaga, bersemangat, tidak bisa tidur
Pembakaran lemak yang berlebihan yang mengkonversikan
Konsumsi di pagi hari, hindari konsumsi di malam hari, minum lebih banyak air putih
Warna wajah menjadi lemah
Reaksi detoksasi akibat dari aksi serat
Lanjutkan konsumsi, hindari makanan berat, minum lebih banyak air putih
Gas dalam perut, perasaan tidak enak pada dada, muak
Kegagalan pada fungsi pencernaan
Lanjutkan konsumsi
Mengantuk dan kelelalahan
Darah asam kegagalan hati, terlalu payah kelebihan obat-obatan dan kimia
Lanjutkan konsumsi, minum lebih banyak air putih, kurangi konsumsi daging dan lebih banyak istirahat
Pusing, lelah dan lapar
Tingkat kadar gula darah rendah atau anemia, lemak akan terbakar dan gula darah akan menurun
Konsumsi setelah makan, hindari minum air pada perut yang kosong
Diare
Kegagalan pada sistem pencernaan, serat akan membantu detoksasi
Lanjutkan konsumsi
Sembelit
Penggumpalan, kekurangan serat, air atau mineral
Konsumsi di pagi hari, hindari konsumsi di malam hari, minum lebih banyak air putih
Jerawat, ruam-ruam, berkeringat
Fungsi hati kurang baik, kelebihan racun/toxin dalam tubuh kita
Lanjutkan konsumsi
Haid yang tidak teratur
Hormon yang tidak seimbang dalam tubuh
Lanjutkan konsumsi
Hidung ingusan, asma, batuk berdahak
Perokok, fungsi pernafasan rendah
Lanjutkan konsumsi
Sedikit edema pada wajah & kaki, berat tubuh bertambah
Fungsi ginjal kurang baik
Lanjutkan konsumsi
Kelumpuhan pada tangan dan kaki
Sirkulasi tidak baik, kekurangan kalsium
Lanjutkan konsumsi
Peradangan pada luka lama
Peningkatan sirkulasi, luka lama akan sedang dalam penyembuhan
Lanjutkan konsumsi